Mengenai Saya

Foto saya
Pematang Siantar, Sumatera Utara, Indonesia

Senin, 26 September 2016

Berita Pelayanan Edisi Juli-September 2016



“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.”
( 1 Korintus 10:23)
Sejauh mana kita mengapresiasikan kemerdekaan? Tidak ada satupun orang yang mau terjajah, tetapi banyak orang yang bingung bagaimana menyikapi kemerdekaan. Banyak orang mengira bahwa kemerdekaan berarti bebas berbuat apa saja seenak perutnya tanpa mempertimbangkan apa-apa. Dan itulah yang terjadi di Indonesia persisnya setelah reformasi. Kata saling pengertian dan toleransi semakin lama semakin menghilang dari muka negara ini. Menyuarakan aspirasi tentu saja tidak salah. Itu hak setiap warga negara. Tapi sebuah kemerdekaan tanpa rambu-rambu jelas akan membahayakan bahkan menghancurkan, bukan saja diri kita tetapi juga orang banyak atau bahkan negara. Kemerdekaan yang dijalankan atas kepentingan pribadi atau golongan tanpa aturan sedikitpun akan menimbulkan banyak masalah. Bayangkan jika setiap orang merasa dirinya paling benar dan berhak menghancurkan yang tidak sepaham dengan mereka, apa jadinya negara ini? Seperti halnya belahan dunia lain, bangsa ini pun merupakan sebuah titipan Tuhan kepada kita yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Kita diijinkan untuk menikmatinya, tetapi jangan lupa bahwa ada tugas penting bagi kita untuk mengelola bumi dengan segala isinya dengan sebaik-baiknya, dan itu sudah digariskan Tuhan sejak pada awal penciptaan, seperti yang disebutkan dalam Kejadian 1:26,28. Sebuah kebebasan seharusnya bisa dipertanggungjawabkan dan dipakai untuk tujuan-tujuan yang konstruktif dan positif, bukan destruktif dan negatif. Sebuah kebebasan seharusnya membuat kehidupan di muka bumi ini semakin damai dan sejahtera, Kita bisa belajar dari apa yang dikatakan Paulus dalam surat 1 Korintus pasal 10. Paulus berkata: “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” (1 Korintus 10:23). Dari ayat ini kita bisa dengan jelas melihat apa yang bisa kita jadikan sebuah dasar pertimbangan dalam menyikapi kebebasan, yaitu: 
1.       Apakah kebebasan itu bermanfaat bagi kita dan sesama atau tidak?
2.      Apakah kebebasan yang kita peroleh itu membangun kehidupan kita dan orang lain atau tidak? 
3.      Apakah itu memberkati kota dimana kita tinggal atau malah membuatnya semakin kacau? :
4.      Apakah kita memuliakan Tuhan dengan cara kita menyikapi kebebasan itu?
Menyikapi kebebasan dengan cara-cara yang salah seperti memaksakan kehendak dengan cara-cara yang tidak baik, memusuhi orang lain, menghakimi, memupuk dendam, berusaha membalas kejahatan dengan kejahatan dan lain-lain akan membuat kita justru menjadi batu sandungan bukannya memuliakan Allah tetapi malah sebaliknya akan mempermalukan Allah.
 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13).
Jangan pergunakan kemerdekaan atau kebebasan seenaknya sehingga kita merasa wajar untuk hidup dalam dosa atau melukis gurat dosa dalam diri kita dengan merugikan orang lain, Petrus berkata: “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (1 Petrus 2:16).
Sebuah kehidupan yang merdeka seharusnya dipakai untuk menjadi hamba Allah yang mengasihi, yang akan memuliakanNya lebih lagi, Sebuah kehidupan yang merdeka seharusnya dipakai untuk menjadi hamba Allah yang mengasihi, yang akan memuliakanNya lebih lagi, baik oleh diri kita sendiri, keluarga kita dan orang lain.

Sikapi kebebasan secara benar dengan penuh tanggung jawab. 



PELAYANAN  POS ZENDING-PI HKBP DI PEMAYONGAN – JAMBI, 24-26 Juni 2016

Pos Zending – PI HKBP Maranata Rogate, KM. 52 Patokan

Pdt. Johannes Dwi Putra Manalu, STh bersama Gr. J. Simangunsong menuju Pos Zending – PI HKBP Maranata Rogate daerah KM. 52, Patokan. Adapun Pelayanan yang dijalankan yakni Pelayanan Khotbah di Ibadah Minggu, dilanjutkan dengan acara Pembaptisan kepada 6 orang anak, dilanjutkan dengan acara Pungukuhan Sidi kepada 4 orang Remaja, kemudian acara Pentahbisan 2 orang Penatua terakhir dilanjutkan dengan ibadah Perjamuan Kudus. Ibadah dilayani oleh Pdt. Johannes Dwi Putra Manalu, STh sebagai Pengkhotbah dan Gr. J. Simangunsong sebagai Liturgis (Paragenda) dan St. Tamba sebagai pemimpin lagu pujian. Jemaat yang hadir dalam ibadah sebanyak 60 orang (Anak dan Orangtua). Melalui keterangan St. Tamba, Jumlah jemaat yang terdata sebagai jemaat Pos Zending – PI HKBP sebanak 30 KK, pelayan tahbisan (penatua) sebanyak 5 orang penatua. Mereka dominan adalah suku Batak, maka mereka merindukan sentuhan pelayanan HKBP kembali, karena mereka sudah cukup lama tidak memperoleh pelayanan gereja selama mereka berjuang mencari kehidupan di daerah perantauan. Mereka juga berharap suatu saat setelah gereja permanen dapat berdiri di sini mereka ingin seorang pelayan fulltimer/pendeta/bibelvrow/diakones akan di tempatkan HKBP di daerah Patokan ini.




Suku Anak Dalam (SAD)

Suku Anak Dalam (SAD) atau Kubu yang dilayani Biro Zending HKBP di Pemayongan – Jambi masih terus berjalan. Namun tetap masih ada penghambat untuk melangkah lebih lanjut. Yakni memateraikan kehadiran Kerajaan Allah di Pamayongan. Dalam dan melalui Baptisan Kudus dan pendirian “resmi”Jemaat Kristus. Sambil menunggu semua hal berhubungan dengan itu. Biro Zending-PI  HKBP memulai respon “baru” terhadap keinginan dan kebutuhan pelayaanan Gereja HKBP. Khususnya bagi “jemaat terlantar” karena tidak terjangkau pelayanan “formal” HKBP. “Terbengkalai” karena mereka sudah dibabtis, disidi bahkan berumah tangga secara pemberkatan pernikahan di Gereja HKBP.
Namun karena keinginan dan kerinduan menambah “bekal hari tua” atau menurut bahasa orang Batak “MARSIAMPAPAGA NA LOMAK”. Banyak dari antara mereka meninggalkan kota kelahiran. Lalu membuka kerja dilahan pembelian secara “sertifikasi” dan atau “garapan”. Untuk itu, awalnya harus meninggalkan keluarga, istri dan anak-anak dulu. Dan sesudah dirasa memadai dari berbagai hal, barulah berangkat bersama seluruh anggota keluarga ke tempat “pencaharian baru”.
            Keadaan ini ada yang baru berlangsung, namun ada juga yang telah berpindah sampai 2 dan 4 kali. Hal ini lah yang membuat mereka jadi “jemaat terlantar” sebagaimana diungkapkan diatas tadi. Karena “belum” dilayani oleh HKBP. Dan atau HKBP tidak membuka pintu itu lebar-lebar.


PELAYANAN  POS ZENDING-PI HKBP DI PULAU ENGGANO, 22-29 Juli 2016



Pulau Enggano merupakan bagian dari wilayah Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Propinsi Bengkulu. Nama Enggano pertama sekali dituliskan oleh Cornelis de Houtman, yang dikunjunginya pada tanggal 5 Juni 1596, yang dalam bahasa Portugis “enggano” berarti “kecewa”. Tidak diterangkan mengapa beliau menamakan pulau ini menjadi pulau kecewa (Wikipedia).
Menurut sejarah Pekabaran Injil (Zending-HKBP), Pos Pelayanan Penginjilan di Pulau Enggano sampai tahun 2016 telah berumur 114 tahun. Ada 3 Pos Penginjilan yang berdiri yaitu: Malakoni (60 kk), Boboyo (80 kk) dan Banjar Sari (27 kk). Di Wikipedia dikatakan jumlah penduduk Enggano yang beragama Kristen hanya 4 % saja. Jumlah yang sangat sedikit sekali menurut saya, jika dibandingkan dengan usia Pekabaran Injil di Enggano yang sudah berusia 114 tahun.

Where’s the barriers? Alias dimana kendalanya? Mengapa kekristenan di Enggano seolah-olah tidak berkembang, bahkan semakin menciut?

Ada beberapa informasi yang penulis dapatkan dari amang Kabiro Zending (Pdt. C.O.R. Silaban, S.Th) dan Tim Zending yang mengunjungi daerah itu beberapa saat lalu. Informasi ini mereka dapatkan dari jemaat dan masyarakat yang ada disana, istilahnya mereka “curhat” from hearth to hearth….
Ada pun informasi yang mereka dapatkan adalah:
1.      Jemaat yang berada disana beranggapan bahwa orang-orang Batak yang diutus kesana untuk melayani,  dianggap “tidak serius” melayani disana.
Pos Pelayanan Penginjilan disana mereka namakan PKPE (Panamuea Kristen Prostestan Enggano). Dimana para Pelayannya mayoritas bersuku batak (dari Kantor Pusat HKBP). Pelayan yang diutus ke tempat ini “terputus-putus”, dalam arti tidak kontiniu (berkelanjutan). Terkadang ada pelayan yang sudah pindah dari sana, untuk beberapa waktu  kemudian menjadi kosong oleh karena pelayan yang diutus kesana tidak ada dari Kantor Pusat HKBP. Kita tidak tahu apa penyebabnya, mungkin karena pulau enggano yang letaknya sangat jauh sehingga jarang ada Pelayan HKBP yang mau melayani disana, atau mungkin ada faktor alasan lainnya.
2.      Para Pelayan yang ditempatkan di Enggano rata-rata kurang memadai, (dari segi kuantitasnya kurang, ditambah lagi dari segi kualitasnya).
Banyak konflik dan permasalahan yang sadar atau tidak sadar dibuat oleh para Pelayan itu sendiri. Pelayannya yang menjadi “trouble maker” bukan menjadi “troubleshooter”.  Walau pun memang tidak semua Pelayan yang ditempatkan disitu membuat masalah. Konflik-konflik yang terjadi membuat para jemaat disana menjadi kecewa, karena seakan-akan Firman Tuhan yang seharusnya mereka pupuk agar tumbuh subur disana menjadi sebaliknya, oleh karena perilaku yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan yang disebarkan.
3.      Mulai banyak berdiri gereja-gereja Kharismatik disana (diantaranya GBI dan GPDI), dan yang menjadi jemaat mereka justru mereka ambil dari Pos Pelayanan Zending itu sendiri, dan banyak juga suku-suku Batak yang merantau kesana menjadi jemaatnya. Entah provokasi dari mana, tetapi ada anggapan kepada masyarakat Enggano bahwa HKBP itu bukanlah gereja yang benar. Mereka menjadi mudah dipengaruhi oleh karena pengalaman-pengalaman “buruk” mereka selama ini tentang pelayan yang dikirim ke tempat ini, dan oleh karena kurangnya pembinaan dan “perawatan rohani” kepada mereka.
Inilah beberapa persoalan yang mereka hadapi saat ini, mudah-mudahan lebih membuka mata kita, agar kita lebih memperhatikan pelayanan yang ada disana, dan mudah-mudahan semakin banyak yang “terpanggil” untuk melayani dengan setulus hati disana , terlebih direncanakan Pos Pelayanan ini akan dijadikan Persiapan Ressort. God Bless Us. 

PEMBERANGKATAN, PELANTIKAN, dan SERAH TERIMA KOORDINATOR  
POS ZENDING-PI HKBP WIL. PULAU ENGGANO

Puji Syukur atas Berkat dan Penyertaan Tuhan Yesus Kristus dalam pelayanan Biro Zending-PI HKBP terhadap Jemaat Tuhan yang ada di wilayah Pulau Enggano. Selama lima tahun Tuhan telah menempatkan Pdt. Harry Panggabean melalui Biro Zending-PI HKBP untuk melayani di daerah tersebut. Selama periode jabatan sebagai Koordinator Pos Zending-PI HKBP wil. Pulau Enggano, beliau telah menjalani dan melakukan pelayanan dengan baik. Sesuai dengan keputusan dan Aturan Peraturan HKBP memutuskan bahwa Pdt. Harry Panggabean harus melanjutkan pelayanannya di tempat yang lain. Kemudian beliau pun digantikan oleh Pdt. Rindu Hutasoit, STh, MM. Pada Hari Minggu, tanggal 24 Juli 2016 telah dilakukan acara pemberangkatan Koordinator Lama, Pdt. Harry Panggabean, STh dan sekaligus acara Pelantikan Koordinator Baru, Pdt. Rindu Hutasoit, STh, MM. Acara dilaksanakan di Gereja Pos Zending – PI HKBP PKPE MALAKONI Pulau Enggano di dalam ibadah Minggu IXX Setelah Trinitatis setelah Khotbah. Acara pemberangkatan dan pelantikan tersebut berjalan dengan baik.  Diharapakn nantinya Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE Wil. Pulau Enggano menjadi Resort Khusus HKBP PKPE Pulau Enggano dengan Pusat (Sabungan) HKBP PKPE MALAKONI, maka akan terjalin hubungan yang baik atau menjadi anggota dari Distrik XV Sumatera Bagian Selatan dan harus mendapat perhatian khusus dari Distrik tersebut serta Resort-resort terdekat yang tergabung dalam anggota dari Distrik XV Sumatera Bagian Selatan. Yang tadinya Koordinator kini akan menjadi Pendeta Resort Khusus dan mendapat kesempatan menjadi anggota Sinode Godang HKBP dan Sinode Distrik XV Sumatera Bagian Selatan. Seluruh acara berlansung dengan baik. Doa dan Dukungan menjadi suatu pengharapan. Biarlah melalui pelayanan biro Zending-PI HKBP nama TUHAN semakin diMuliakan. Kerajaan TUHAN semakin di kembangkan. YA U WAIKA (Bhs. Enggano; Damai Sejahtera Bagi Kita Semua)

Acara Perpisahan Pdt. Harry Panggabean (Koordinator Lama) dan Perkenalan Pdt. Rindu Hutasoit, STh, MM (Koordinator Baru) dengan Jemaat Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE Wil. Pulau Enggano, di Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE BEBOYO

Jumat, 29 Juli 2016 dilaksanakan acara perpisahan Pdt. Harry Panggabean dan Perkenalan Pdt. Rindu Hutasoit, STh, MM di Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE BEBOYO. Acara dimulai pukul 19:30 WIB yang di awali dengan Ibadah Singkat. Acara dihadiri oleh dua orang Staff utusan dari Kantor Biro Zending-PI HKBP; Pdt. Yohanes Dwi Putra Manalu, STh dan Gr. Joel Simangunsong, Pimpinan/Jemaat ketiga Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE Wil. Pulau Enggano: Jemaat Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE MELAKONI, Jemaat Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE BEBOYO dan Jemaat Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE DAKOHA Banjarsari. Tanpa diduga-duga hampir seluruh masyarakat Pulau Enggano yang tinggal di sekitar daerah ketiga Pos Zending tersebut menghadiri acara tersebut. Gereja dan tenda yang dibuat di depan gereja penuh dengan masyarakat (berbeda suku dan Agama) yang hadir.  
Acara di meriahkan dengan lagu-lagu persembahan dari kumpulan ibu-ibu Pulau Enggano dan persembahan lagu-lagu dari Jemaat Tuhan Gereja Tetangga (GPDI). Dalam acara juga diadakan pemberian cendera mata kepada Pdt. Harry Panggabean dan pemberian kata-kata perpisahan. Seketika itu puladeru tangis dan air mata bercucuran karena harus menjalani proses perpisahan.

YA U WAIKA (Bhs. Enggano; Damai Sejahtera Bagi Kita Semua)




PELAYANAN  POS ZENDING-PI HKBP DI PULAU RUPAT, 14-21 AGUSTUS 2016

ACARA SERAH-TERIMA JABATAN KOORDINATOR POS ZENDING-PI HKBP WIL. PULAU RUPAT


Puji Syukur bagi Tuhan, yang telah menyertai pelayanan  Pdt. Jolly Rajagukguk, STh selama melayani sebagai Koordinator Pos Zending-PI HKBP Wil. Pulau Rupat selama lebih kurang satu setengah tahun. Tetapi pelayanan beliau harus dilanjutkan oleh Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan, STh dan menjadi Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan Resort Khusus HKBP Kacak Pulau Rupat, karena Pdt. Jolly Rajagukguk, STh akan melanjutkan pelayanannya sebagai Pendeta Fungsional di STM HKBP Pematangsiantar atas Surat Keputusan dari Pimpinan HKBP.
Acara Serah-Terima Jabatan tersebut dipimpin oleh Ka. Biro Zending-PI HKBP, Pdt. C.O.R. Silaban, STh dan dihadiri Tim dari Kantor, Pdt. Johanes Dwi Putra Manalu, STh, Gr. Joel Simangunsong, Biv. L. Parapat, serta seluruh Pimpinan Jemaat/Pelayan/Aktivis Zending Wilayah Pulau Rupat. Atas berkat dan penyertaan Tuhan acara serah-terima jabatan koordinator berjalan dengan baik. 


Mulai saat diterbitkannya Surat Keputusan (SK) dari Pimpinan HKBP melalui Ka. Biro Zending-PI HKBP. Pos Zending-PI HKBP Wil. Pulau Rupat ditetapkan menjadi Persiapan Resort Khusus HKBP Kacak Pulau Rupat, yang ditetapkan menjadi Gereja pusatnya ialah di Sungai Bantal. Jadi keenam Gereja Pos Zending-PI wil. Pulau Rupat diganti namanya seperti Gereja Pos Zending-PI Sungai Bantal diganti namanya menjadi HKBP Kacak Sungai/Sei Bantal, Pos Zending-PI Hutan Ayu menjadi HKBP Kacak Hutan Ayu, Pos Zending-PI Sungai Carok menjadi HKBP Kacak Sungai Carok, Pos Zending-PI Sungai Raya menjadi HKBP Kacak Sungai Raya, Pos Zending-PI Kuala Simpur menjadi HKBP Kacak Kuala Simpur dan Pos Zending-PI Gunap menjadi HKBP Kacak Gunap. Dengan demikian perlunya mempersiapkan Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat dan Pimpinan Jemaat beserta jemaat untuk menerima peningkatan status tersebut. Adapun ketentuan/tugas dari Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat yang beliau sampaikan yaitu: Mempersiapkan dan membentuk Perangkat (persiapan) Resort sekaligus Perangkat Resort dan perangkat Jemaat sesuai dengan Aturan dan Peraturan HKBP 2002, melaksanakan tertib Administrasi sesuai keputusan Resosrt (Persisapan) di HKBP, melaksanakan
 tugas pelayanan di Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat, dalam melaksanakan tugas senantiasa berkonsultasi dengan Biro Zending-Pi HKBP dan Praeses HKBP Distrik XXX Riau Pesisir, membuat laporan Pelayanan minimal 1 x tri wulan yang dilaporkan kepada Biro Zending-Pi HKBP dan Praeses HKBP Distrik XXX Riau Pesisir. Sedangkan ketentuan untuk Setiap Pimpinan Jemaat yakni: Bersama Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan Resort HKBP memilih  dan menetapkan perangkat Jemaat (sesuai dengan AP HKBP 2002), memulai pemakaian semua alat Administrasi sebagaimana resmi bagi jemaat utuh (sesuai AP HKBP 2002), hal ini menyangkut pemakaian buku-buku catatan resmi HKBP, ketentuan Persembahan Kebaktian (Ia,Ib, dan II), Ucapan Syukur, Janji Iman, Persembahan Bulanan/Tahunan. Semua ini sudah harus di berlakukan. Puji syukur dan terimakasih bagi Tuhan atas berkat dan penyertaanNya acara Serah Terima Jabatan pun berlansung dengan baik, pemberangkatan Pdt. Jolly Rajagukguk (koordinator lama) dan Pelantikan Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan, STh (PJS Pendeta Persiapan Resort) akan diadakan pada hari Minggu, tanggal 21 Agustus 2016 dalam acara Ibadah Minggu. Terimakasih buat  Doa dan dukungan saudara/i biarlah tetap menjadi pengharapan demi pengembangan pelayanan dan penyataan Kerajaan Tuhan di Pulau Rupat


Pemberangkatan Koordinator Lama dan Pelantikan Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat

Pada hari Minggu, 21 Agustus 2016 dalam Ibadah Minggu, setelah selesai Khotbah diadakan acara memberangkatakan Pdt. Jolly Rajagukguk, STh yang akan melanjutkan pelayanannya menjadi Pendeta Fungsional di STM HKBP Pematangsiantar dan dilanjutkan dengan Pelantikan Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan, STh menjadi Pejabat Sementara Pendeta Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat. Pemberangkatan dan Pelantikan itu dilayankan oleh Ka. Biro Zending-PI HKBP, Pdt. C.O.R Silaban, STh dan didampingi oleh Pdt. Johanes Dwi Putra Manalu, STh untuk membacakan Surat Keputusan (SK) dari Pimpinan HKBP Pusat. Pemberangkatan dan Pelantikan berlansung dengan baik, setelah itu dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan, kata-kata temu-pisah  dari Pdt. Jolly Rajagukguk, STh dan Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan , STh juga kata sambutan dari perwakilan Jemaat.  
Kemudian dilanjutkan lagi dengan pemberian ulos kepada Pdt. Jolly Rajagukguk, STh dan Bapak St. Tiar Gee sebagai ucapan terimakasih dari Biro Zending-PI HKBP atas pelayanan dan terkhusus kepada bapak St. Tiar Gee atas bantuannya terhadap pembangunan Rumah Koordinator/Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat yang berada di depan Gereja HKBP Kacak Sungai Bantal. Biro Zending-PI HKBP mengucapka terimakasih banyak kepada bapak St. Tiar Gee yang senantiasa memberikan bantuan terhadap pengembangan pelayanan di wilayah Pulau Rupat. 

Pdt. Jolly Rajaguguk, STh di berangkatkan dengan baik oleh seluruh jemaat Gereja Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat dan Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan, STh juga di sambut baik oleh seluruh Jemaat. Ibadah Minggu dan acara Pemberangkatan dan Pelantikan pun berlansung dengan damai sejahtera yang dari pada Tuhan. Terpujilah Tuhan sumber kedamaian itu. Diberkatilah Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan, STh bersama Pimpinan Jemaat/Pelayan/aktivis Zending-PI HKBP dalam menyatakan Kerajaan Tuhan dan KemuliaanNya di tengah-tengah Pulau Rupat






Tidak ada komentar:

Posting Komentar