
“Segala sesuatu
diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu
diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.”
( 1 Korintus 10:23)
Sejauh mana kita
mengapresiasikan kemerdekaan? Tidak ada satupun orang yang mau terjajah, tetapi
banyak orang yang bingung bagaimana menyikapi kemerdekaan. Banyak orang mengira
bahwa kemerdekaan berarti bebas berbuat apa saja seenak perutnya tanpa
mempertimbangkan apa-apa. Dan itulah yang terjadi di Indonesia persisnya
setelah reformasi. Kata saling pengertian dan toleransi semakin lama semakin
menghilang dari muka negara ini. Menyuarakan aspirasi tentu saja tidak salah.
Itu hak setiap warga negara. Tapi sebuah kemerdekaan tanpa rambu-rambu jelas
akan membahayakan bahkan menghancurkan, bukan saja diri kita tetapi juga orang
banyak atau bahkan negara. Kemerdekaan yang dijalankan atas kepentingan pribadi
atau golongan tanpa aturan sedikitpun akan menimbulkan banyak masalah.
Bayangkan jika setiap orang merasa dirinya paling benar dan berhak
menghancurkan yang tidak sepaham dengan mereka, apa jadinya negara ini? Seperti
halnya belahan dunia lain, bangsa ini pun merupakan sebuah titipan Tuhan kepada
kita yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Kita diijinkan untuk
menikmatinya, tetapi jangan lupa bahwa ada tugas penting bagi kita untuk
mengelola bumi dengan segala isinya dengan sebaik-baiknya, dan itu sudah
digariskan Tuhan sejak pada awal penciptaan, seperti yang disebutkan dalam
Kejadian 1:26,28. Sebuah kebebasan seharusnya bisa dipertanggungjawabkan dan
dipakai untuk tujuan-tujuan yang konstruktif dan positif, bukan destruktif dan
negatif. Sebuah kebebasan seharusnya membuat kehidupan di muka bumi ini semakin
damai dan sejahtera, Kita bisa belajar dari apa yang dikatakan Paulus dalam
surat 1 Korintus pasal 10. Paulus berkata: “Segala sesuatu diperbolehkan.”
Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.”
Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” (1 Korintus 10:23). Dari
ayat ini kita bisa dengan jelas melihat apa yang bisa kita jadikan sebuah dasar
pertimbangan dalam menyikapi kebebasan, yaitu:
1.
Apakah kebebasan itu bermanfaat bagi kita dan sesama atau tidak?
2.
Apakah kebebasan yang kita peroleh itu membangun kehidupan kita dan orang
lain atau tidak?
3.
Apakah itu memberkati
kota dimana kita tinggal atau
malah membuatnya semakin kacau? :
4.
Apakah kita memuliakan
Tuhan dengan cara kita
menyikapi kebebasan itu?
Menyikapi
kebebasan dengan cara-cara yang salah seperti memaksakan kehendak dengan
cara-cara yang tidak baik, memusuhi orang lain, menghakimi, memupuk dendam,
berusaha membalas kejahatan dengan kejahatan dan lain-lain akan membuat kita
justru menjadi batu sandungan bukannya memuliakan Allah tetapi malah sebaliknya
akan mempermalukan Allah.
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil
untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai
kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang
lain oleh kasih.” (Galatia 5:13).
Jangan
pergunakan kemerdekaan atau kebebasan seenaknya sehingga kita merasa wajar
untuk hidup dalam dosa atau melukis gurat dosa dalam diri kita dengan merugikan
orang lain, Petrus berkata: “Hiduplah
sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan
itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai
hamba Allah.” (1 Petrus 2:16).
Sebuah
kehidupan yang merdeka seharusnya dipakai untuk menjadi hamba Allah yang
mengasihi, yang akan memuliakanNya lebih lagi, Sebuah kehidupan yang merdeka seharusnya dipakai untuk menjadi hamba
Allah yang mengasihi, yang akan memuliakanNya lebih lagi, baik oleh diri kita sendiri, keluarga kita dan orang lain.
Sikapi kebebasan secara benar
dengan penuh tanggung jawab.
PELAYANAN POS ZENDING-PI HKBP DI PEMAYONGAN – JAMBI, 24-26 Juni 2016
Pos
Zending – PI HKBP Maranata Rogate, KM. 52 Patokan
Suku Anak Dalam (SAD)
Suku Anak Dalam (SAD) atau Kubu
yang dilayani Biro Zending HKBP di Pemayongan – Jambi masih terus berjalan.
Namun tetap masih ada penghambat untuk melangkah lebih lanjut. Yakni memateraikan
kehadiran Kerajaan Allah di Pamayongan. Dalam dan melalui Baptisan Kudus dan
pendirian “resmi”Jemaat Kristus. Sambil menunggu semua hal berhubungan dengan
itu. Biro Zending-PI HKBP memulai respon
“baru” terhadap keinginan dan kebutuhan pelayaanan Gereja HKBP. Khususnya bagi
“jemaat terlantar” karena tidak terjangkau pelayanan “formal” HKBP.
“Terbengkalai” karena mereka sudah dibabtis, disidi bahkan berumah tangga
secara pemberkatan pernikahan di Gereja HKBP.
Namun karena keinginan
dan kerinduan menambah “bekal hari tua” atau menurut bahasa orang Batak
“MARSIAMPAPAGA NA LOMAK”. Banyak dari antara mereka meninggalkan kota kelahiran.
Lalu membuka kerja dilahan pembelian secara “sertifikasi” dan atau “garapan”.
Untuk itu, awalnya harus meninggalkan keluarga, istri dan anak-anak dulu. Dan
sesudah dirasa memadai dari berbagai hal, barulah berangkat bersama seluruh
anggota keluarga ke tempat “pencaharian baru”.
Keadaan ini ada yang baru
berlangsung, namun ada juga yang telah berpindah sampai 2 dan 4 kali. Hal ini
lah yang membuat mereka jadi “jemaat terlantar” sebagaimana diungkapkan diatas
tadi. Karena “belum” dilayani oleh HKBP. Dan atau HKBP tidak membuka pintu itu
lebar-lebar.
PELAYANAN POS ZENDING-PI HKBP DI PULAU ENGGANO, 22-29 Juli 2016
Menurut
sejarah Pekabaran Injil (Zending-HKBP), Pos Pelayanan Penginjilan di Pulau
Enggano sampai tahun 2016 telah berumur 114 tahun. Ada 3 Pos Penginjilan yang
berdiri yaitu: Malakoni (60 kk), Boboyo (80 kk) dan Banjar Sari (27 kk). Di
Wikipedia dikatakan jumlah penduduk Enggano yang beragama Kristen hanya 4 %
saja. Jumlah yang sangat sedikit sekali menurut saya, jika dibandingkan dengan
usia Pekabaran Injil di Enggano yang sudah berusia 114 tahun.
Where’s the
barriers? Alias dimana kendalanya? Mengapa kekristenan di Enggano seolah-olah
tidak berkembang, bahkan semakin menciut?
Ada
beberapa informasi yang penulis dapatkan dari amang Kabiro Zending (Pdt. C.O.R.
Silaban, S.Th) dan Tim Zending yang mengunjungi daerah itu beberapa saat lalu.
Informasi ini mereka dapatkan dari jemaat dan masyarakat yang ada disana,
istilahnya mereka “curhat” from
hearth to hearth….
Ada
pun informasi yang mereka dapatkan adalah:
1. Jemaat
yang berada disana beranggapan bahwa orang-orang Batak yang diutus kesana untuk
melayani, dianggap “tidak serius”
melayani disana.
Pos
Pelayanan Penginjilan disana mereka namakan PKPE (Panamuea Kristen Prostestan
Enggano). Dimana para Pelayannya mayoritas bersuku batak (dari Kantor Pusat
HKBP). Pelayan yang diutus ke tempat ini “terputus-putus”, dalam arti tidak
kontiniu (berkelanjutan). Terkadang ada pelayan yang sudah pindah dari sana,
untuk beberapa waktu kemudian menjadi
kosong oleh karena pelayan yang diutus kesana tidak ada dari Kantor Pusat HKBP.
Kita tidak tahu apa penyebabnya, mungkin karena pulau enggano yang letaknya
sangat jauh sehingga jarang ada Pelayan HKBP yang mau melayani disana, atau
mungkin ada faktor alasan lainnya.
2. Para
Pelayan yang ditempatkan di Enggano rata-rata kurang memadai, (dari segi
kuantitasnya kurang, ditambah lagi dari segi kualitasnya).
Banyak
konflik dan permasalahan yang sadar atau tidak sadar dibuat oleh para Pelayan
itu sendiri. Pelayannya yang menjadi “trouble maker” bukan menjadi
“troubleshooter”. Walau pun memang tidak
semua Pelayan yang ditempatkan disitu membuat masalah. Konflik-konflik yang
terjadi membuat para jemaat disana menjadi kecewa, karena seakan-akan Firman
Tuhan yang seharusnya mereka pupuk agar tumbuh subur disana menjadi sebaliknya,
oleh karena perilaku yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan yang disebarkan.
3. Mulai
banyak berdiri gereja-gereja Kharismatik disana (diantaranya GBI dan GPDI), dan
yang menjadi jemaat mereka justru mereka ambil dari Pos Pelayanan Zending itu
sendiri, dan banyak juga suku-suku Batak yang merantau kesana menjadi
jemaatnya. Entah provokasi dari mana, tetapi ada anggapan kepada masyarakat
Enggano bahwa HKBP itu bukanlah gereja yang benar. Mereka menjadi mudah
dipengaruhi oleh karena pengalaman-pengalaman “buruk” mereka selama ini tentang
pelayan yang dikirim ke tempat ini, dan oleh karena kurangnya pembinaan dan
“perawatan rohani” kepada mereka.
Inilah beberapa
persoalan yang mereka hadapi saat ini, mudah-mudahan lebih membuka mata kita,
agar kita lebih memperhatikan pelayanan yang ada disana, dan mudah-mudahan semakin
banyak yang “terpanggil” untuk melayani dengan setulus hati disana , terlebih
direncanakan Pos Pelayanan ini akan dijadikan Persiapan Ressort. God Bless Us.
PEMBERANGKATAN, PELANTIKAN,
dan SERAH TERIMA KOORDINATOR
POS ZENDING-PI HKBP
WIL. PULAU ENGGANO
Acara
Perpisahan Pdt. Harry Panggabean (Koordinator Lama) dan Perkenalan Pdt. Rindu
Hutasoit, STh, MM (Koordinator Baru) dengan Jemaat Gereja Pos Zending-PI HKBP
PKPE Wil. Pulau Enggano, di Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE BEBOYO
Jumat, 29 Juli 2016 dilaksanakan acara perpisahan Pdt. Harry Panggabean dan Perkenalan
Pdt. Rindu Hutasoit, STh, MM di Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE BEBOYO. Acara
dimulai pukul 19:30 WIB yang di awali dengan Ibadah Singkat. Acara dihadiri
oleh dua orang Staff utusan dari Kantor Biro Zending-PI HKBP; Pdt. Yohanes Dwi
Putra Manalu, STh dan Gr. Joel Simangunsong, Pimpinan/Jemaat ketiga Gereja Pos
Zending-PI HKBP PKPE Wil. Pulau Enggano: Jemaat Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE
MELAKONI, Jemaat Gereja Pos Zending-PI HKBP PKPE BEBOYO dan Jemaat Gereja Pos
Zending-PI HKBP PKPE DAKOHA Banjarsari. Tanpa diduga-duga hampir seluruh
masyarakat Pulau Enggano yang tinggal di sekitar daerah ketiga Pos Zending
tersebut menghadiri acara tersebut. Gereja dan tenda yang dibuat di depan
gereja penuh dengan masyarakat (berbeda suku dan Agama) yang hadir.
Acara
di meriahkan dengan lagu-lagu persembahan dari kumpulan ibu-ibu Pulau Enggano
dan persembahan lagu-lagu dari Jemaat Tuhan Gereja Tetangga (GPDI). Dalam acara
juga diadakan pemberian cendera mata kepada Pdt. Harry Panggabean dan pemberian
kata-kata perpisahan. Seketika itu puladeru tangis dan air mata bercucuran
karena harus menjalani proses perpisahan.
YA U
WAIKA (Bhs. Enggano; Damai Sejahtera Bagi
Kita Semua)
PELAYANAN POS ZENDING-PI HKBP DI PULAU RUPAT, 14-21 AGUSTUS 2016
ACARA SERAH-TERIMA JABATAN KOORDINATOR POS ZENDING-PI HKBP WIL. PULAU
RUPAT
Acara
Serah-Terima Jabatan tersebut dipimpin oleh Ka. Biro Zending-PI HKBP, Pdt.
C.O.R. Silaban, STh dan dihadiri Tim dari Kantor, Pdt. Johanes Dwi Putra
Manalu, STh, Gr. Joel Simangunsong, Biv. L. Parapat, serta seluruh Pimpinan
Jemaat/Pelayan/Aktivis Zending Wilayah Pulau Rupat. Atas berkat dan penyertaan
Tuhan acara serah-terima jabatan koordinator berjalan dengan baik.
Mulai saat diterbitkannya Surat Keputusan (SK)
dari Pimpinan HKBP melalui Ka. Biro Zending-PI HKBP. Pos Zending-PI HKBP Wil.
Pulau Rupat ditetapkan menjadi Persiapan Resort Khusus HKBP Kacak Pulau Rupat,
yang ditetapkan menjadi Gereja pusatnya ialah di Sungai Bantal. Jadi keenam
Gereja Pos Zending-PI wil. Pulau Rupat diganti namanya seperti Gereja Pos
Zending-PI Sungai Bantal diganti namanya menjadi HKBP Kacak Sungai/Sei Bantal, Pos Zending-PI Hutan Ayu menjadi HKBP Kacak Hutan Ayu, Pos Zending-PI
Sungai Carok menjadi HKBP Kacak Sungai
Carok, Pos Zending-PI Sungai Raya menjadi HKBP Kacak Sungai Raya, Pos Zending-PI Kuala Simpur menjadi HKBP Kacak Kuala Simpur dan Pos
Zending-PI Gunap menjadi HKBP Kacak
Gunap. Dengan demikian perlunya
mempersiapkan Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau
Rupat dan Pimpinan Jemaat beserta jemaat untuk menerima peningkatan status
tersebut. Adapun ketentuan/tugas dari Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan
Resort HKBP Kacak Pulau Rupat yang beliau sampaikan yaitu: Mempersiapkan dan
membentuk Perangkat (persiapan) Resort sekaligus Perangkat Resort dan perangkat
Jemaat sesuai dengan Aturan dan Peraturan HKBP 2002, melaksanakan tertib
Administrasi sesuai keputusan Resosrt (Persisapan) di HKBP, melaksanakan
tugas
pelayanan di Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat, dalam melaksanakan tugas
senantiasa berkonsultasi dengan Biro Zending-Pi HKBP dan Praeses HKBP Distrik
XXX Riau Pesisir, membuat laporan Pelayanan minimal 1 x tri wulan yang
dilaporkan kepada Biro Zending-Pi HKBP dan Praeses HKBP Distrik XXX Riau
Pesisir. Sedangkan ketentuan
untuk Setiap Pimpinan Jemaat yakni: Bersama Pejabat Sementara (PJS) Pendeta
Persiapan Resort HKBP memilih dan
menetapkan perangkat Jemaat (sesuai dengan AP HKBP 2002), memulai pemakaian
semua alat Administrasi sebagaimana resmi bagi jemaat utuh (sesuai AP HKBP
2002), hal ini menyangkut pemakaian buku-buku catatan resmi HKBP, ketentuan
Persembahan Kebaktian (Ia,Ib, dan II), Ucapan Syukur, Janji Iman, Persembahan
Bulanan/Tahunan. Semua ini sudah harus di berlakukan. Puji syukur dan
terimakasih bagi Tuhan atas berkat dan penyertaanNya acara Serah Terima Jabatan
pun berlansung dengan baik, pemberangkatan Pdt. Jolly Rajagukguk (koordinator
lama) dan Pelantikan Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan, STh (PJS Pendeta Persiapan
Resort) akan diadakan pada hari Minggu, tanggal 21 Agustus 2016 dalam acara
Ibadah Minggu. Terimakasih buat Doa dan
dukungan saudara/i biarlah tetap menjadi pengharapan demi pengembangan
pelayanan dan penyataan Kerajaan Tuhan di Pulau Rupat
Pemberangkatan
Koordinator Lama dan Pelantikan Pejabat Sementara (PJS) Pendeta Persiapan Resort HKBP
Kacak Pulau Rupat
Pdt. Jolly Rajaguguk, STh di berangkatkan dengan baik oleh seluruh jemaat Gereja Persiapan Resort HKBP Kacak Pulau Rupat dan Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan, STh juga di sambut baik oleh seluruh Jemaat. Ibadah Minggu dan acara Pemberangkatan dan Pelantikan pun berlansung dengan damai sejahtera yang dari pada Tuhan. Terpujilah Tuhan sumber kedamaian itu. Diberkatilah Pdt. Barita Ruth Y. Panjaitan, STh bersama Pimpinan Jemaat/Pelayan/aktivis Zending-PI HKBP dalam menyatakan Kerajaan Tuhan dan KemuliaanNya di tengah-tengah Pulau Rupat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar